Sambut Era Digital, Prodi Perbankan Syari’ah Gelar Entrepreneur Banking

Foto Bersama Prodi Perbankan Syari’ah dengan Kolega Perbankan – Sandi

Program Studi (Prodi) Perbankan Syari’ah menggelar Entreprenur Banking dalam rangka menyambut era digital Lembaga Keuangan. Kegiatan ini berlangsung selama dua hari bertempat di Ruang Teater IAIN Pontianak pada Jum’at (16/11/2018). Adapun pemateri yang dihadirkan berasal dari kalangan profesional dan kalangan praktisi Lembaga Keuangan yang sudah menggunakan aplikasi berbasis digital dalam menyelenggarakan kegiatan transaksi keuangan (Fintech).

Pemateri tersebut adalah Tri (OJK) dengan materi Panduan Perizinan Pendirian Bank Perkreditan Rakyat (BPR), Alif Sukendri (Praktisi/CV USSI) dengan materi Tata Cara Mendirikan Bank dan Lembaga Keuangan Non Bank, Adi Warna (Praktisi/Koperasi BISA) dengan materi Lembaga Keuangan Non Bank Berbasis Fintech dan Edi Supriyanto (Praktisi/Zahir Accounting) dengan materi Pengelolaan Bank di Era Fintech.

Kegiatan ini dihadiri oleh 225 peserta yang merupakan mahasiswa semester 6 Prodi Perbankan Syari’ah. Wakil Dekan II FSEI IAIN Pontianak, Rasiam, M.A. saat membuka acara menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan agenda tahunan bagi Prodi Perbankan Syari’ah. Kegiatan ini bertujuan  untuk merekayasa kompetensi mahasiswa di era disrupsi keuangan (fintech). Dengan menghadirkan praktisi langsung di bidang fintech maka sasaran bagi mahasiswa adalah mampu menginisiasi pendirian fintech sebagai pelaku langsung, bukan sebagai karyawan. Tantangan era disrupsi keuangan harus dijawab dengan inisiasi tersebut.

“Fokus kita ke depan bukan hanya menyiapkan SDM untuk jadi karyawan di bidang perbankan saja, saya menyebutnya sebagai kopral (frontliner, back office, marketing), tetapi juga harus menjawab peluang entrepreneur banking yakni sebagai jenderalnya,”tegasnya.

Tri selaku pemateri dari OJK menjelaskan mengenai perizinan pada pendirian Bank Perkreditan Rakyat (BPR) yang dibagi ke dalam empat zona. Masing-masing zona tersebut memiliki standar modal awal yang berbeda. Zona empat yang paling rendah, yakni modal awal sebesar 4 Milyar rupiah. Selain itu, secara umum keberadaan BPR di Kalimantan Barat terbilang cukup banyak, hanya saja untuk BPR Syari’ah belum ada, sehingga ini menjadi kesempatan lulusan Perbankan Syari’ah menjadi pioner pendirian BPR Syari’ah.

Sementara itu, Alif  Sukendri selaku praktisi keuangan memberikan motivasi kepada mahasiswa untuk dapat menjadi entrepeneur banking. Selain menjelaskan proses pendirian Lembaga Keuangan Bank dan Non Bank, juga menjelaskan kondisi BMT saat ini yang kekurangan SDM, sehingga momen ini saat tepat untuk mempersiapkan SDM dari kalangan mahasiswa Perbankan Syari’ah.

Di hari kedua kegiatan ini berfokus pada pendirian dan pengelolaan fintech. Adi Warna selaku praktisi yang juga pendiri fintech Abang Desa menjelaskan tentang mekanisme pengelolaan fintech, salah satunya mengenai bagaimana proses penghimpunan dana melalui fintech. Melalui aplikasi Abang Desa, Adi menjelaskan secara detail teknik pengelolaan fintech dalam menghimpun dana desa. Adi juga berpesan kepada mahasiswa agar setelah lulus nantinya dapat menjadi pioner pendirian fintech di desa-desa mengingat saat ini masih sangat kurang fintech yang menyasar pengelolaan keuangan di desa. “Akan sangat membanggakan bila lulusan perbankan syari’ah menjadi entrepreneur banking berbasis fintech di desa, khususnya secara syari’ah, sehingga sarjana hari ini berperan dalam memajukan ekonomi di desa,” terangnya.

Sementara itu, Edi Suprianto selaku praktisi fintech menjelaskan bahwa SDM perbankan syari’ah harus menyiapkan adopsi fintech 3.0 yang kemudian menjadi asimilasi teknologi di bidang perbankan, sehingga diperlukan keahlian di bidang digital banking. Edi mengajak peserta untuk membuka wawasan terhadap fintech. Termasuk di dalamnya menyiapkan strategi disrupsi fintech bagi dunia perbankan di tanah air.

Penulis: fadhieldluffy

Leave a Reply